• gbanner2
  • gbanner 5
  • gbanner1
  • gbanner4
  • gbanner5

Selamat Datang di Website Sekolah Islamic Village | Terima Kasih Atas Kunjungannya.

Login Member

Username:
Password :

Kontak Kami


Sekolah Islamic Village

NPSN : 20613947

Jl. Islamic Raya Kel. Kelapa Dua, Kec. Kelapa Dua, Kab. Tangerang - BANTEN


info@isvill.sch.id

TLP : 0215470787 / 0877718


          

Jajak Pendapat

Bermanfaatkah Website Sekolah bagi Anda...?
Tidak
Ya
  Lihat

Statistik


Total Hits : 148038
Pengunjung : 48514
Hari ini : 15
Hits hari ini : 18
Member Online : 0
IP : 54.82.79.109
Proxy : -
Browser : Opera Mini

Status Member

Belajar Mencintai Allah Dari Keluarga Nabi Ibrahim




Di bulan-bulan haji ini, kita diajak untuk dapat mengambil teladan untuk kehidupan kita yang berkualitas kepada tiga manusia mulia; Nabi Ibrahim, Siti Hajar dan putra mereka Ismail. Ketiganya pribadi-pribadi yang telah membuktikan keber-islaman atau kepasrahan dan dan keberserahan diri yang sejati kepada Allah.

Ibrahim, keimanan dan kepasrahannya kepada Allah membuat ia rela berpisah dengan ayahnya, lalu dibakar oleh Raja Naram Sin atau Namrudz dan berkelana ribuan kilometer dari Ur selatan Irak ke Harran Turki, dilanjutkan ke Palestina, kemudian hijrah ke Mesir. Dan dari Mesir ia kembali ke Palestina untuk mengajak manusia kepada Tauhid. Meski ia harus menerima kenyataan, selama lebih 70 tahun ia berdakwah, tidak banyak orang yang mau mengikuti risalahnya kecuali Sarah, Luth, Hajar dan beberapa orang pembantunya. 

      Demi menegakkan perintah Allah pula, Ibrahim rela mengasingkan isteri dan anak yang dikasihinya ribuan kilometer jauhnya. Dan demi cintanya kepada Allah pula, Ibrahim rela membuang rasa cintanya kepada Ismail, justru di saat rindunya pada Ismail  dan memilih untuk taat kepada perintah Allah yang menyuruhnya menyembelih Ismail.

Ismail, keimanan dan kepasrahannya kepada Allah membuat ia rela menyerahkan lehernya untuk disembelih oleh Ibrahim; ayah yang pernah “membuang” ia dan ibunya ke lembah tak bertuan. Ayah yang tidak pernah mendampingi, merawat dan menafkahi mereka selama dua belas tahun itu. Tapi kemudian datang membawa sebuah perintah yang tak bisa dicerna akal sehat “Allah memerintahkan aku untuk menyembelihmu!”

Sementara keimanan dan kepasrahan Hajar kepada Allah membuat ia berani melakukan semua hal yang boleh jadi tidak akan pernah dilakukan wanita mana pun sepanjang sejarah. Sikap berserahnya kepada Allah, dia tunjukkan saat Ibrahim membawa ia dan anaknya yang baru berusia dua tahun ke sebuah tempat  yang jauh dan asing. Menempuh perjalanan lebih dari 1200 kilometer; dari Hebron di Palestina ke lembah Bekka di Jazirah Arabia. Melintasi gurun yang panas, badai pasir, hutan belantara, semak belukar dan mungkin ancaman binatang  buas. Tidak cukup sampai di situ, Ibrahim kemudian meninggalkan mereka berdua di lembah tandus tak berpenghuni.

Kepasrahannya kepada Allah juga dia tunjukkan saat suami yang pernah “membuangnya” itu datang dengan membawa pesan, “Aku diperintahkan Allah untuk menyembelih anak kita!” Hajar, ibu mulia yang hatinya dipenuhi dengan iman dan cinta kepada Allah itu ikhlas merelakan putra yang amat dikasihinya untuk disembelih oleh Ibrahim AS.

     

Keislaman Yang Sejati

Keimanan yang sejati kepada Allah menuntut cinta dan kepasrahan total kepada kehendak-Nya, kepada perintah-Nya, kepada hukum-hukum-Nya. Tidak hanya sekadar percaya bahwa Allah itu ada sebagai Pencipta alam semesta. Tidak sekadar percaya bahwa Allah selalu menjaga dan melindungi kita. Tidak  sekadar percaya bahwa Allah itu maha tahu dan mengerti segala kebutuhan kita. Tapi, iman yang melahirkan sikap aslama; pasrah, berserah diri dan mempercayakan seluruh hidup kita kepada-Nya!

Allah berfirman, “Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayanganNya.” (An-Nisa [4]:125)

Dari kisah hidup Nabi Ibrahim, Nabi Ismail dan Sayyidati Hajar kita mendapatkan pelajaran penting tentang sikap aslama, berserah diri yang sejati kepada Allah, sebagai inti dari ajaran Islam.

Pertama, berserah diri itu maknanya  taat dan patuh kepada Allah dan meyakini sepenuh hati bahwa setiap perintah, ketetapan dan keputusan Allah adalah kebaikan buat kita.

Berserah diri berarti meyakini bahwa semua perintah Allah adalah benar dan baik buat kita. Bahkan ketika perintah itu bertentangan dengan logika dan akal sehat kita sekali pun, kita harus sami’naa wa atha’naa.

Kedua, berserah diri itu maknanya bergerak dinamis, jiwa maupun raganya, untuk membangun kehidupan yang terhormat dan bermartabat. Meski yakin bahwa Allah tidak akan menyengsarakan ia dan anaknya, namun saat lapar dan haus mencekik leher, Hajar tidak berdiam diri sambil menengadahkan tangan memohon kemurahan Allah untuk menurunkan hidangan dari surga. Tidak! Ia berlari ke sana kemari mencari air, untuk menyelamatkan hidupnya. Hajar mengajarkan kepada kita, bahwa air, sebagai simbol penghidupan duniawi itu harus dijemput dengan berlari, dengan ikhtiar dan kerja yang gigih. Tidak mungkin Allah datang menolong kita jika kita tidak berusaha menolong diri kita sendiri.

Ketiga, berserah diri maknanya selalu yakin  bahwa Allah tidak pernah menyia-nyiakan setiap usaha kita. Allah pasti memberi dan memilihkan yang terbaik untuk kita! Dari Siti Hajar juga kita belajar bahwa jika kita sudah bergerak melakukan sesuatu untuk menolong diri kita; jika kita sudah “mendaki bukit Shafa” dan “bergegas menuju Marwah” dengan mengerahkan semua ikhtiar, usaha, kekuatan, potensi yang diberikan Allah kepada kita, maka percayalah, Allah  pasti akan mengantarkan kita ke Marwah kita! Marwah maknanya kepuasan, kelapangan, kesuksesan. Marwah adalah tempat  Allah memberi kepada kita karunia, hadiah, bahkan mukjizat-Nya sebagai buah dari kerja keras, ketekunan, kesabaran dan keikhlasan kita, baik dari sumber pencaharian kita maupun dari tempat lain yang tidak kita duga. Sebagaimana air yang diberikan Allah kepada Siti Hajar. Bukan datang dari kafilah yang lewat. Bukan dari oase atau mata air yang memancar dari celah bebatuan di Marwah. Air justru memancar dari tanah dekat tumit kecil Ismail dibaringkan!

Keempat, berserah diri maknanya mau berbagi. Siti Hajar tidak hanya menikmati air itu untuk diri dan anaknya saja. Ketika datang kafilah dari Suku Jurhum atau Yorhamit untuk  mohon izin tinggal di tempat itu dan mengambil manfaat dari sumber mata air zam-zam, dengan gembira dan lapang dada Siti Hajar mengizinkan. Bahkan ketika mereka menjemput seluruh anggota keluarganya dan menetap secara permanen di tempat tersebut, Siti Hajar memperkenankan.   Berserah diri berarti, jika Allah sudah menolong kita, maka tolonglah sesama kita. Jika kita merasa telah diselamatkan Allah, selamatkanlah sesama kita. Kalau kita merasa telah dilapangkan hidupnya oleh Allah, maka lapangkanlah hidup sesama kita

Kelima, berserah diri maknanya siap mengorbankan dan memberikan yang terbaik yang paling kita cintai untuk Allah. Seperti Ibrahim dan Siti Hajar mengorbannya rasa sayang kepada Ismail yang dikasihinya. Seperti Ismail berani mengorbankan hidupnya sendiri demi ketaatan kepada Allah, dengan tegas dia berkata,

“Wahai ayahanda, lakukan apa yang Allah perintahkan! Insya Allah engkau akan mendapatiku sebagi orang yang menanggung ujian ini.”

Memberi yang terbaik untuk Allah inilah bentuk tertinggi dari sikap aslam atau keber-islaman kita.

Demikianlah lima indikator keberislaman sejati yang dapat kita teladani dari tiga manusia agung yang sejarah hidupnya sedang dan akan terus dinapaktilasi jutaan muslim yang berhaji ke tanah suci.

Semoga di hari dan di bulan yang mulia ini, Allah menanamkan ke dalam hati kita keimanan yang teguh kepada-Nya; iman yang membuat kita tunduk dan patuh kepada-Nya, taat-setia melaksanakan titah-Nya, ikhlas dan ridha pada semua ketentuan-Nya, serta yakin dan percaya akan semua janji-janji-Nya. Dengan  demikian, akan berkahlah hidup kita, ditolonglah kita, diselamatkan dan dilindungilah kita, keluarga dan masyarakat kita.

Amin Ya Rabbal ‘alamiin.




Share This Post To :

Kembali ke Atas

Artikel Lainnya :




Silahkan Isi Komentar dari tulisan artikel diatas :

Nama :

E-mail :

Komentar :

          

Kode :


 

Komentar :


   Kembali ke Atas